Minggu, 03 Juni 2012

budidaya cabe organik

PERTANIAN ORGANIK PADA KOMODITI CABAI
(Capsicum annum)
OLEH:
SAKTI ARUZI MUNTHE
08.821.0003


 






PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS  MEDAN AREA
MEDAN
2011-2012




KATA PENGANTAR

         Rasa syukur yang dalam saya sampaikan kehadirat Allah Yang maha Esa,  karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini saya memaparkan tentang perbedaan petani kecil dan petani besar.
       Makalah  ini dibuat untuk memudahkan mahasiswa dalam memahami ruang lingkup pertanian organik diindonesia khususnya komoditi cabai.
         Dalam  menyelesaikan tugas makalah ini,  tentunya saya mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu rasa terima kasih yang dalam-dalamnya  kami sampaikan :
·         Prof. Dr.ir.Retno astute kuswardani, Ms  selaku dosen mata kuliah “pertanian organik ”
·         Rekan-rekan mahasiwa yang telah banyak  memberikan masukan untuk  makalah ini.

Demikian makalah ini saya buat semoga bermanfaat.

                                                                       Hormat saya

                                                                                                     Sakti aruzi munthe
08 821 0003









DAFTAR ISI
COVER.................................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR............................................................................................ 2
DAFTAR ISI............................................................................................................ 3
BAB I    PENDAHULUAN.................................................................................... 4
            1.1    Latar Belakang...................................................................................... 4
            1.2    Syarat tumbuh....................................................................................... 7
BAB II   TEKNOLOGI BUDIDAYA.................................................................... 8
a.  . Bahan tanam............................................................................................... 8
b.Persemaian..................................................................................................... 8
c.  . Penyiapan lahan.......................................................................................... 9
d.      Penanaman.................................................................................................. 10
e.  . Pemulsaan................................................................................................... 10
f.  . Pengapuran................................................................................................. 11
g.Pemupukan.................................................................................................... 11
h.Pengairan....................................................................................................... 11
i.   . Penyakit...................................................................................................... 12
j.   . Hama........................................................................................................... 17
BAB III    PANEN DAN PASCA PANEN........................................................... 21
         a.                                                                                                                        panen   21
         b. pasca panen................................................................................................... 21
BAB IV    KESIMPULAN...................................................................................... 24
         DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 25


I.    PENDAHULUAN
1.1.      Latar belakang
     Keberhasilan pembangunan pertanian selama ini telah memberikan dukungan
yang sangat tinggi terhadap pemenuhan kebutuhan pangan rakyat Indonesia, namun
demikian disadari bahwa dibalik keberhasilan tersebut terdapat kelemahan-kelemahan
yang perlu diperbaiki. Produksi yang tinggi yang telah dicapai banyak didukung oleh teknologi yang memerlukan input (masukan) bahan-bahan anorganik yang tinggi terutama bahan kimia pertanian seperti pupuk urea, TSP/SP-36, KCl, pestisida, herbisida, dan produk-produk kimia lainnya yang berbahaya bagi kesehatan dengan dosis yang tinggi secara terus-menerus, terbukti menimbulkan banyak pencemaran yang dapat menyumbang degradasi fungsi lingkungan dan
perusakan sumberdaya alam, serta penurunan daya dukung lingkungan.
     Adanya kesadaran akan akibat yang ditimbulkan dampak tersebut, perhatian masyarakat dunia perlahan mulai bergeser ke pertanian yang berwawasan lingkungan. Dewasa ini masyarakat sangat peduli terhadap alam dan kesehatan, maka muncullah teknologi alternatif lain, yang dikenal dengan “pertanian organik”, “usaha tani organik”, “pertanian alami”, atau “pertanian berkelanjutan masukan rendah”. Pengertian tersebut pada dasarnya mempunyai prinsip dan tujuan yang sama, yaitu untuk melukiskan sistem pertanian yang bergantung pada produk-produk
organik dan alami, serta secara total tidak termasuk penggunaan bahan-bahan
sintetik.
     Cabai merah (Capsicum annum) merupakan salahsatu jenis sayura n penting yang bernilai ekonomis tinggi dan cocok untuk dikembangkan di daerah tropika seperti di Indonesia. Cabai sebagian besar digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan sebagiannya untuk ekspor  alam bentuk kering, saus, tepung dan lainnya  Di Propinsi Lampung, cabai merah termasuk salah satu komoditi tanaman sayuran unggulan. Komoditi tersebut banyak diusahakan di lahan  ering baik dataran tinggi maupun dataran rendah. Propinsi Lampung mempunyai potensi sumberdaya alam khususnya lahan kering yang sesuai untuk pengembangan tanaman pangan dan hortikultura. Optimalisasi pemanfaatan lahan kering tersebut dapat dilakukan melalui penyediaan teknologi spesifik lokasi.
Dalam upaya pemenuhan kebutuhan akan produksi cabai merah yang lebih kompetitif, diperlukan upaya peningkatan produksi yang mengacu pada peningkatan efisiensi baik ekonomi, mutu maupun produktivitas melalui penerapan teknologi mulai dari penentuan lokasi, penanganan benih, penanaman, pemeliharaan, hingga penanganan panen yang tepat.
            Beberapa kegiatan yang diharapkan dapat menunjang dan memberikan kontribusi dalam meningkatkan keuntungan produktivitas pertanian dalam jangka panjang, meningkatkan kualitas lingkungan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan adalah sebagai berikut:

a.   Pengendalian Hama Terpadu
     Pengendalian Hama Terpadu merupakan suatu pendekatan untuk mengendalikan
hama yang dikombinasikan dengan metode-metode biologi, budaya, fisik dan
kimia, dalam upaya untuk meminimalkan; biaya, kesehatan dan resiko-resiko
lingkungan. Adapun caranya dapat melalui;
􀂃 Penggunaan insek, reptil atau binatang-binatang yang diseleksi untuk      mengendalikan hama
     atau dikenal musuh alami hama, seperti Tricogama sp.,    sebagai musuh alami dari
     parasit telur dan parasit larva hama tanaman.
􀂃 Menggunakan tanaman-tanaman “penangkap” hama, yang berfungsi sebagai      pemikat
     (atraktan), yang menjauhkan hama dari tanaman utama.
􀂃 Menggunakan drainase dan mulsa sebagai metode alami untuk menurunkan        infeksi jamur,
     dalam upaya menurunkan kebutuhan terhadap fungsida sintetis.
􀂃 Melakukan rotasi tanaman untuk memutus populasi pertumbuhan hama setiap tahun .

b.   Sistem Rotasi dan Budidaya Rumput
            Sistem pengelolaan budidaya rumput intensif yang baru adalah dengan memberikan tempat bagi binatang ternak di luar areal pertanian pokok yang ditanami rumput berkualitas tinggi, dan secara tidak langsung dapat menurunkan biaya pemberian pakan. Selain itu, rotasi dimaksudkan pula untuk memberikan waktu bagi pematangan pupuk organik. Areal peternakan yang dipadukan dengan rumput atau kebun buah-buahan dapat memiliki keuntungan ganda, antara lain ternak dapat menghasilkan pupuk kandang yang merupakan pupuk untuk areal pertanian.
c.    Konservasi Lahan
            Beberapa metode konservasi lahan termasuk penanaman alur, mengurangi atau
tidak melakukan pembajakan lahan, dan pencegahan tanah hilang baik oleh erosi
angin maupun erosi air. Kegiatan konservasi lahan dapat meliputi:
􀂃 Menciptakan jalur-jalur konservasi.
􀂃 Menggunakan dam penahan erosi.
􀂃 Melakukan penterasan.
􀂃 Menggunakan pohon-pohon dan semak untuk menstabilkan tanah.
4. Menjaga Kualitas Air/Lahan Basah
            Konservasi dan perlindungan sumberdaya air telah menjadi bagian penting dalam
pertanian. Banyak diantara kegiatan-kegiatan pertanian yang telah dilaksanakan tanpa memperhatikan kualitas air. Biasanya lahan basah berperan penting dalam melakukan penyaringan nutrisi (pupuk anoraganik) dan pestisida. Adapun langkah-langkah yang ditujukan untuk menjaga kualitas air, antara lain;
􀂃 Mengurangi tambahan senyawa kimia sintetis ke dalam lapisan tanah bagian
atas (top soil) yang dapat mencuci hingga muka air tanah (water table).
􀂃 Menggunakan irigasi tetes (drip irrigation).
􀂃 Menggunakan jalur-jalur konservasi sepanjang tepi saluran air.
􀂃 Melakukan penanaman rumput bagi binatang ternak untuk mencegah peningkatan racun akibat aliran air limbah pertanian yang terdapat pada peternakan intensif.

5. Tanaman Pelindung
Penanaman tanaman-tanaman seperti gandum dan semanggi pada akhir musim panen tanaman sayuran atau sereal, dapat menyediakan beberapa manfaat termasuk menekan pertumbuhan gulma (weed), pengendalian erosi, dan meningkatkan nutrisi dan kualitas tanah.

6. Diversifikasi Lahan dan Tanaman
Bertanam dengan memiliki varietas yang cukup banyak di lahan pertanian dapat mengurangi kondisi ekstrim dari cuaca, hama penggangu tanaman, dan harga pasar. Peningkatan diversifikasi tanaman dan jenis tanaman lain seperti pohonpohon dan rumput-rumputan, juga dapat memberikan kontribusi terhadap konservasi lahan, habitat binatang, dan meningkatkan populasi serangga yang bermanfaat. Beberapa langkah kegiatan yang dilakukan;
􀂃 Menciptakan sarana penyediaan air, yang menciptakan lingkungan bagi
katak, burung dan binatang-binatang lainnya yang memakan serangga dan insek.
􀂃 Menanam tanaman-tanaman yang berbeda untuk meningkatkan pendapatan sepanjang tahun dan meminimalkan pengaruh dari kegagalan menanam sejenis tanaman saja.






7. Pengelolaan Nutrisi Tanaman
Pengelolaan nutrisi tanaman dengan baik dapat meningkatkan kondisi tanah dan melindungi lingkungan tanah. Peningkatan penggunaan sumberdaya nutrisi di lahan pertanian, seperti pupuk kandang dan tanaman kacang-kacangan (leguminosa) sebagai penutup tanah dapat mengurangi biaya pupuk anorganik yang harus dikeluarkan. Beberapa jenis pupuk organik yang bisa digunakan antara lain:
􀂃 Pengomposan
􀂃 Penggunaan kascing
􀂃 Penggunaan Pupuk Hijauan (dedaunan)
􀂃 Penambahan nutrisi pada tanah dengan emulsi ikan dan rumput laut.

1.2        Syarat tumbuh
     Cabai merah dapat dibudidayakan di dataran rendah maupun dataran tinggi, pada lahan sawah atau tegalan dengan ketinggian 0-1000 m dpl. Tanah yang baik untuk pertanaman cabai adalah yang berstruktur remah atau gembur, subur, banyak mengandung bahan organik, pH tanah antara 6-7. Kandungan air tanah juga perlu diperhatikan. Tanaman cabai yang dibudidayakan di sawah sebaiknya ditanam pada akhir musim hujan, sedangkan di tegalan ditanam pada musim hujan.
















II. TEKNOLOGI BUDIDAYA
a.      Bahan Tanam
Sampai saat ini banyak varietas cabai yang sudah dilepas di pasaran, baik yang hibrida maupun yang non hibrida M-DT
b.      Persemaian
􀂃 Untuk memperoleh bibit yang baik umumnya dilakukan penyemaian biji/benih di tempat
     persemaian, kemudian dilakukan penyapihan (pembumbungan) sebelum ditanam
     dilapangan.
􀂃 Tempat persemaian berupa bedengan berukuran lebar 1 m, diberi naungan atap plastic
     transparan, dan atap menghadap ke timur.
􀂃 Media persemaian terdiri dari campuran tanah halus dan pupuk kandang steril (1:1)
􀂃 Sebelum disemai bibit direndam dalam air hangat (50oC) atau larutan Previcur N (1 cc)
     selama 1 jam, untuk mempercepat perkecambahan dan menghilangkan hama/penyakit
     yang terbawa benih.
􀂃 Benih disebar rata pada bedengan dan ditutupi tipis tanah halus, lalu ditutupi lagi dengan
     daun pisang atau karung basah
􀂃 Setelah benih berkecambah (7-8 hari) tutup daun pisang atau karung dibuka.
􀂃 Setelah membentuk 2 helai daun (12-14 hari) bibit dipindahkan ke dalam bumbungan
     dengan media yang sama (campuran tanah dan pupuk kandang). Bumbungan dapat
     mengurangi kerusakan akar bila dipindahkan ke lapangan.
􀂃 Inokulasi cendawan mikoriza sebanyak 10 gr/pohon sangat bermanfaat, karena dapat
     mempercepat laju pertumbuhan dan kesehatan tanaman di persemaian, juga dapat
     meningkatkan daya hidup dan pertumbuhan tanaman di lapangan.
􀂃 Penyiraman dilakukan secukupnya tidak terlalu basah atau kering.
􀂃 Persemaian juga disiangi dengan cara mencabut gulma yang tumbuh.
􀂃 Bibit yang tampak terserang hama atau penyakit dibuang dan dimusnahkan.
􀂃 Sebelum dipindah ke lapangan dilakukan penguatan bibit dengan jalan membuka atap
     persemaian supaya bibit menerima langsung sinar matahari dan mengurangi penyiraman
     secara bertahap. Penguatan bibit dilakukan selama 7 hari.
􀂃 Bibit siap ditanam setelah berumur 3-4 minggu dalam bumbungan. Bibit tersebut sudah membentuk 4-6 helai daun, dan tinggi 5-10 cm.
Gambar 1. Cara persemaian yang dianjurkan

c.       Penyiapan Lahan
Ø  Penyiapan lahan bertujuan untuk memperbaiki drainase dan aerasi tanah, meratakan permukaan tanah dan menghilangkan gulma.
Ø  Pengolahan tanah berupa pembajakan/pencangkulan, pembersihan gulma, perataan permukaan tanah, dan pembuatan bedengan, guludan, garitan, lubang tanam,
Ø  Untuk lahan kering/tegalan: lahan diolah sedalam 30-40 cm sampai gembur, dibuat bedengan dengan lebar 1-1,2 m, tinggi 30 cm, jarak antar bedeng 30 cm. Dibuat garitangaritan atau lubang tanam dengan jarak tanam (50-60 cm) x(40-50 cm).
Ø  Untuk lahan sawah: lahan dibuat bedengan dengan lebar 1,5 m. Antara bedengan dibuat parit sedalam 50 cm dan lebar 50 cm. Tanah di atas bedengan diolah sampai gembur dan lubang tanam dibuat dengan jarak tanam 50 cm x 40 cm
     Gambar 2. Pembuatan lubang tanam setelah pemulsaan


d.      Penanaman
Ø  Pemilihan waktu tanam yang tepat sangat penting, terutama berhubungan dengan ketersediaan air, curah hujan, temperatur, dan gangguan hama/penyakit.
Ø  Sebaiknya cabai ditanam pada bulan agak kering, tetapi air tanah masih cukup tersedia.
Ø  Waktu tanam yang baik juga tergantung jenis lahan, pada lahan kering pada awal musim hujan, pada lahan sawah pada akhir musim hujan sedangkan pada lahan beririgasi teknis akhir musim hujan (Maret-April) dan awal musim kemarau
(Mei-Juni)
Ø  Sebelum tanam, garitan-garitan yang telah disiapkan diberi pupuk kandang atau kompos, dengan cara dihamparkan pada garitan. Di atas pupuk kandang atau kompos diletakkan sebagian pupuk buatan, kemudian diaduk dengan tanah.
Ø  Bedengan kemudian disiram dengan air sampai kapasitas lapang (lembab tapi tidak becek).
Ø  Dipasang mulsa plastik hitam perak dan dibuat lubang tanam.
Ø  Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari.

e.       Pemulsaan
Ø  Penggunaan mulsa pada budidaya cabai merupakan salah satu usaha untuk memberikan kondisi lingkungan pertumbuhan yang baik.
Ø  Mulsa dapat memelihara struktur tanah tetap gembur, memelihara kelembaban dan suhu tanah. Juga akan mengurangi pencucian hara, menekan gulma dan mengurangi erosi tanah.
Ø  Mulsa plastik hitam perak dapat digunakan untuk penanaman cabai, dipasang sebelum tanam cabai.
Ø  Penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat meningkatkan hasil cabai, mengurangi kerusakan tanaman karena hama trips dan tungau, dan menunda insiden virus.
Ø  Penggunaan mulsa jerami setebal 5 cm (10 ton/ha) juga dapat meningkatkan hasil cabai, tetapi mulsa jerami sebaiknya digunakan pada musim kemarau, dipasang 2 minggu setelah tanam.




f.       Pengapuran
Ø  Kemasaman (pH) tanah mempengaruhi ketersediaan hara bagi tanaman. Pada pH netral (6,5-7,5) unsur-unsur hara tersedia dalam jumlah yang cukup banyak (optimal). Pada pH < 6,0 ketersediaan hara P, K, Ca, S, Mg, dan Mo menurun dengan cepat. Pada pH > 8 ketersediaan hara N, Fe, Mn, Bo, Cu, dan Zn relatif sedikit.
Ø  Cabai mempunyai toleransi yang sedang terhadap kemasaman tanah, dapat tumbuh baik pada kisaran pH tanah antara 5,5- 6,8.
Ø  Pada tanah masam (pH < 5,5) perlu dilakukan pengapuran dengan kapur pertanian sebanyak 1-2 ton/ha. Pengapuran dilakukan 3-4 minggu sebelum tanam, dengan cara kapur disebar rata pada permukaan tanah kemudian diaduk dengan tanah.

g.      Pemupukan
Ø  Untuk penanaman cabai pada lahan kering di dataran tinggi/medium (jenis Andosol/Latosol) adalah sebagai berikut: Pemupukan dasar terdiri dari pupuk kandang kuda (20-30 ton/ha) atau pupuk kandang ayam (15-20 ton/ha) dilakukan satu minggu sebelum tanam.
Ø  Untuk penanaman cabai pada lahan sawah di dataran rendah (jenis aluvial) pupuk kandang ayam (15-20 ton/ha) atau kompos (5-10 ton/ha).

h.      Pengairan
Ø  Cabai termasuk tanaman yang tidak tahan kekeringan, tetapi juga tidak tahan terhadap genangan air. Air diperlukan dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan atau kurang. Kelembaban tanah yang ideal 60-80% kapasitas lapang.
Ø  Masa kritis yaitu saat pertumbuhan vegetatif cepat, pembungaan dan pembuahan.
Ø  Jumlah kebutuhan air per tanaman selama pertumbuhan vegetatif 250 ml tiap 2 hari, dan  meningkat jadi 450 ml tiap 2 hari pada masa pembungaan dan pembuahan
Ø  Sistem irigasi tetes pada lahan kering dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air dan hasil cabai.
Ø  Atau pengairan sistem digenang (leb) selama 15-30 menit kemudian airnya dikeluarkan dari petakan.

Gambar 3. Beberapa contoh pembuatan irigasi tetes

i.        Hama dan Penyakit Utama
1.      penyakit
Penyakit virus kuning
Gejala
1. Dari jauh hamparan pertanaman cabai berubah dari warna hijau menjadi menguning. Warna kuning hampir mirip penyakit bulai pada jagung sehingga sebagian petani
menyebutnya penyakit ”Bulai Amerika”.
2. Pengamatan lapang menunjukkan pertanaman cabai merah yang 100% terserang tidak menghasilkan buah sama sekali.
3. Penyebab penyakit adalah anggota kelompok virus Gemini yang juga banyak menyerang tanaman tembakau, tomat.
4. Variasi gejala yang mungkin timbul pada cabai adalah sbb:
Ø Tipe -1. Gejala diawali dengan pucuk mengkerutcekung berw arna mosaik hijau pucat, pertumbuhan terhambat, daun mengkerut dan menebal disertai tonjolan berwarna hijau  tua.
Ø Tipe-2. Gejala diawali dengan mosaik kuning pada pucuk dan daun muda, gejala terlanjut pada hamper seluruh daun menjadi bulai.
Ø Tipe-3. Gejala awal urat daun pucuk atau daun muda berwarna pucat atau kuning sehingga tampak seperti jala, gejala berlanjut menjadi belang kuning, sedangkan bentuk daun tidak banyak berubah.
Ø Tipe-4. Gejala awal daun muda/pucuk cekung dan mengkerut dengan warna mosaik ringan, gejala berlanjut dengan seluruh daun berwarna kuning cerah, bentuk daun berkerut dan cekung dengan ukuran lebih kecil, serta pertumbuhan terhambat.
 
Gambar 4. Gejala serangan penyakit virus
kuning pada tanaman cabai merah.

Penularan dan Penyebab
1.      Penyakit yang disebabkan oleh virus gemini tidak ditularkan karena tanaman bersinggungan atau terbawa benih. Di lapangan virus ditularkan oleh kutu kebul Bemisia tabaci atau Bemisia argentifolia. Kutu kebul dewasa yang mengandung virus dapat menularkan virus selama hidupnya pada waktu dia makan pada tanaman sehat. Satu kutu kebul cukup untuk menularkan virus. Efisiensi penularan meningkat dengan bertambahnya jumlah serangga per tanaman.
2.      Sifat kutu kebul yang mampu makan pada banyak jenis tanaman (polifagus) menyebabkan virus ini menyebar dan menular lebih luas berbagai jenis tanaman.
3.      Virus gemini memiliki tanaman inang yang luas dari berbagai tanaman seperti: ageratum, kacang buncis, kedelai, tomat, tembakau, dll.
Gambar 5. kutu kebul dewasa (Bemisia tabaci)

     Kepompong berbentuk oval, agak pipih, berwarna hijau ke putih-putihan sampai kekuning-kuningan. Pupa terdapat pada permukaan bawah daun. Serangga dewasa berukuran kecil, berwarna putih dan mudah diamati karena pada bagian permukaan bawah daun ditutup lapisan lilin yang bertepung.
                                                 
Gambar 6. Imago dan pradewasa dari hama kutu kebul (B. tabaci)
     Ukuran tubuhnya berkisar 1-1.5 mm dan siklus hidupnya antara 7-21 hari. Serangga dewasa biasanya berkelompok dalam jumlah yang banyak.
 Bila tanaman tersentuh, serangga tersebut akan beterbangan seperti kabut atau kebul putih.
Pengendalian
1.      Mengolah lahan dengan baik serta memberikan pupuk berimbang untuk cabai, serta pemakaian plastik mulsa putih perak.
2.      Pembibitan dengan cara penyungkupan tempat semaian dengan kain kasa atau plastik yang telah dilubangi. Dan membuat rak pembibitan setinggi lebih kurang 1 m
3.      Untuk daerah yang baru terkena serangan penyakit virus kuning tanaman muda (sampai 30 hari) yang terserang segera dimusnahkan, dan disulam/diganti dengan tanaman yang sehat.
4.      Pada daerah-daerah yang telah terserang berat, tanaman muda yang terserang tidak dimusnahkan, tetapi dibuang bagian daun yang menunjukkan gejala kuning keriting dan kemudian disemprotkan pupuk daun.
5.      Menanam pembatas/barrier jagung sebanyak 4-5 baris disekeliling pertanaman cabai.
6.      Memasang perangkap kuning sebanyak 40 buah/ha
7.      Penanaman tagetes (bunga tai ayam) terutama dipinggir pertanaman cabai.
          
           Gambar 7. Bunga tagetes
8.      Pelepasan predator Menochillus sexmaculatus, mampu memangsa sebanyak 200-400 ekor B. tabaci per hari, 12 ekor thrips per hari, 200 ekor aphids per hari, Siklus hidup 18-24 hari, satu ekor betina menghasilkan telur sekitar 3.000 butir
                      
Gambar 8. Imago predator (Menochillus sp) pada tanaman cabai

Penyakit Antraknosa (Colletotrichum sp)
Gejala serangan
Ø  Gejala pada buah membuat buah busuk. Penyakit dapat menginfeksi buah matang maupun buah muda.
Ø  Gejala awal adalah bercak kecil seperti tersiram air, luka ini berkembang dengan cepat sampai ada yang bergaris tengah 3-4 cm. Perluasan bercak yang maksimal membentuk lekukan dengan warna merah tua coklat muda, dengan berbagai bentuk konsentrik dari jaringan stromatik cendawan yang berwarna gelap.
Gambar 9. Gejala serangan penyakit antraknosa
Pengendalian
• Pemantauan dilakukan secara berkala
• Bila terdapat daun/buah tanaman sakit, bagian tanaman yang sakit dimusnahkan.
• Pertanaman disemprot dengan fungisida seperti Antrakol dengan dosis sesuai anjuran.


Busuk Batang dan Busuk Daun
Gejala
Ø  Infeksi pertama terjadi pada titik tumbuh, bunga dan pucuk daun, kemudian menyebar ke bagian bawah tanaman.
Ø  Pucuk daun berubah warna dari hijau muda menjadi warna coklat, lalu hitam dan akhirnya membusuk.
Ø  Busuk ini merata menuju ke bagian bawah tanaman dan menyerang kuncup bunga yang lain, sehingga seluruh bagian atas tanaman terkulai.
Ø  Batang yang terserang menjadi busuk kering, kulitnya mudah terkelupas, akhirnya tanaman mati.
Ø   Dalam kondisi kelembaban tinggi terbentuk bulu-bulu berwarna hitam yang muncul dari jaringan yang terinfeksi cendawan.
                               
Gambar 10. Gejala serangan penyakit busuk batang dan busuk daun
Pengendalian
Ø  Sanitasi lapangan dengan cara memusnahkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi dan gulma yang bersifat inang
Ø  Rotasi tanaman dengan tanaman bukan inang, seperti dari padi-padian dan palawija
Ø  Pengendalian serangga inang yang dapat menularkan dari satu tanaman ke tanaman lain
Ø  Mengatur waktu tanam yaitu dengan tidak menanam cabai merah pada musim hujan dengan curah hujan tinggi.
Ø  Mengurangi kerapatan tanaman dengan cara mengatur jarak tanam
Ø  Memperbaiki drainase lahan.
Ø  Menggunakan fungisida yang cocok untuk cendawan antara lain fungisida sistemik Acelalamine, Dimethomorp, Propamocarb, Oxadisil, dan pemakaian fungisida kontak Klorotalonil.

2.      Hama
Thrips (Thrips parvispinus)
     Warna tubuh nimfa kuning pucat, dewasa berwarna kuning sampai coklat kehitaman. Terdapat 105 jenis tanaman yang dapat menjadi inangnya antara lain tembakau, kopi, ubi
jalar, klotalaria dan kacang-kacangan. Thrips menyerang tanaman cabai sepanjang tahun, serangan hebat umumnya terjadi pada musim kemarau
Gejala
     Permukaan bawah daun yang terserang berwarna keperak-perakan dan daun mengeriting atau berkerut. Intensitas serangan dapat mencapai 87%.

Gambar 11. Hama trips dan gejala serangan
Pengendalian
v  Pemantauan dilakukan pada 10-20 tanaman cabai secara berkala (5 hari sekali)
v  Bila ditemukan populasi 5-10 Thrips/daun muda perlu dikendalikan dengan pestisida seperti pegasus, mesural sesuai dosis anjuran.
v  Memasang perangkap kuning di pertanaman cabai sebanyak 40 buah/ha.

Lalat Buah (Bactrocera dorsalis)
     Tanaman yang seringkali diserang oleh larva lalat buah diantaranya adalah belimbing, mangga, nangka, rambutan, melon, dan semangka, cabai, jeruk, jambu, pisang susu dan
pisang raja sere.

Gambar 12. Imago dari lalat buah
Gejala Serangan
     Gejala serangan pada buah yang terinfestasi lalat buah ditandai dengan adanya noda-noda kecil bekas tusukan ovipositornya. Rata-rata tingkat serangan lalat buah pada cabai berkisar antara 20-25%.

Gambar 13. Gejala serangan hama lalat buah
Pengendalian
     Memasang perangkap methil eugenol (ME) sebanyak 50-100 buah/ha, pada saat tanaman berbunga. Lalat buah yang tertangkap kemudian dimusnahkan.
Gambar 14. Pemasangan perangkap methil eugenol
untuk mengendalikan hama lalat buah






















III. PANEN DAN PASCA PANEN
a.      Panen
ü  Cabai merah dapat di panen pertama kali pada umur 70-75 hari setelah tanam untuk dataran rendah.dan pada umur 4-5 bulan untuk dataran tinggi, dengan interval panen 3-7 hari.
ü  Buah rusak yang disebabkan oleh lalat atau antraknose segera dimusnahkan.
ü  Buah yang akan dijual segar dipanen matang. Buah yang dikirim untuk jarak jauh dipanen waktu buah matang hijau. Buah yang akan dikeringkan dipanen setelah matang penuh.
ü  Sortasi dilakukan untuk memisahkan buah cabai merah yang sehat, bentuk normal dan baik.
ü  Kemasan diberi lubang angin yang cukup atau menggunakan karung jala.Tempat penyimpanan harus kering, sejuk dan cukup sirkulasi udara.

b.  Pasca Panen
     1.     Pengeringan
Secara garis besar pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengeringan alami dan pengeringan buatan. Pengeringan alami dapat dilakukan dengan penyinaran matahari langsung misalnya dengan penyinaran atau pemanfaatan energi panas. Beberapa cara pengeringan sebagai berikut:
·         Cara petani:
Pengeringan yang umumnya digunakan oleh petani adalah dengan menggunakan lantai semen atau pasangan batu bata yang diplester. Selain cara tersebut pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan rak-rak yang dibuat dari kayu atau anyaman bambu. Pengeringan cara petani mempunyai keuntungan tidak memerlukan bahan bakar sehingga biaya pengeringan murah, memperluas kesempatan kerja dan sinar matahari mampu menembus ke dalam jaringan sel bahan. Sedangkan kerugiannya antara lain: suhu pengeringan dan kelembaban tidak dapat dikontrol, hanya  berlangsung bila ada sinar matahari.
·         Pengeringan buatan:
Pengeringan buatan dengan energi matahari pada prinsipnya sinar matahari digunakan sebagai pengganti sumber panas dari bahan bakar pada saat pengeringan.
Pengeringan buatan berbentuk seperti lemari dengan dinding terbuat dari plastik dan rangka terbuat dari kayu. Jumlah rak disesuaikan dengan besar dan ukuran alat pengering. Rancangan alat pengering terdiri dari tiga bagian yaitu cerobong, ruang pengering, dan kolektor. Kolektor terdiri dari isolator yang terbuat dari seng bergelombang, yang berfungsi sebagai pengubah sinar matahari menjadi sumber panas.

·         Keuntungan pengeringan buatan adalah:
 (1) tidak perlu dijaga dari gangguan hujan dan gangguan hewan peliharaan,
(2) tidak perlu diangkat (dibongkar) sebelum kering.

·         Pengeringan dengan oven
Alat ini mengunakan sumber panas dari tenaga listrik. Cabai merah dapat dikeringkan dalam bentuk utuh atau dibelah. Cabai merah yang dibelah pengeringannya lebih cepat dibandingkan dengan cabai yang dikeringkan utuh. Pengeringan dengan oven dapat dilakukan pada suhu 60o C selama 20-25 jam. Untuk menjaga agar warna cabai merah tetap baik, setelah dibelah cabai segera dikeringkan. Cara lain adalah direndam dalam larutan bisulfit (Natrium Sulfit/ Natrium Metabisulfit) 0,2 % selama 5-10 menit.

·         Saus Cabai Merah
Ø  Pilih cabai merah yang warna merahnya seragam. Cabai yang berwarna hijau atau merah kehijauan tidak dianjurkan digunakan dalam pembuatan saus cabai, karena akan menyebabkan saus cabai menjadi kecoklat-coklatan.
Ø  Setelah dibuang tangkainya, cabai merah dicuci bersih lalu dikukus sampai matang. Lama pemanasan tergantung pada banyaknya cabai merah yang dikukus. Setelah matang cabai merah digiling bersama bumbu-bumbu yang terdiri dari: bawang merah 1%, bawang putih 1%, berdasarkan berat bahan kedua bumbu tersebut ditambahkan bersama cabai pada saat cabai dihancurkan sampai diperoleh bubur cabai.
Ø  Selanjutnya bubur cabai dipanaskan dan ditambahkan gula 6%, garam 2%, dan cuka 0,25% (berdasarkan berat bahan), semua bahan dipanaskan. Saus cabai yang telah dimasak dimasukan dalam botol, lalu dilakukan pasteurisasi selama 30 menit.

·         Tepung Cabai
Ø  Pilih cabai yang sehat dan berwarna merah yang seragam.
Ø  Dilakukan pemanasan awal (blansing) 7-10 menit lalu dikeringkan menggunakan oven atau alat pengering dengan energi surya.
Ø  Setelah kering diangkat dan digiling sampai halus.
Ø  Dikemas dengan pengemasan yang ideal seperti dengan botol kaca atau polyethylene yang tidak mudah menyerap uap air. Simpan ditempat yang kering.
Ø  Sebagai tambahan: cabai kering yang telah dibuat tepung dapat dicampur dengan rempah-rempah lainnya dan dapat digunakan sebagai bumbu siap pakai.

























IV. KESIMPULAN
Ø  Pada saat sekarang ini telah dilakukan perbaikan budidaya tanaman yang mengacu pada pertanian organik, karena selain baik bagi kesehatan tubuh juga baik untuk memperbaiki tekstur dan struktur tanah.
Ø  Pertanian organik adalah pertanian yang terbebas dari bahan kimia yang dapat merusak lingkungan maupun ekosistem.
Ø  Cabai merah (Capsicum annum) merupakan salahsatu jenis sayura n penting yang bernilai ekonomis tinggi.
Ø  Untuk mendapatkan kualitas dan kuantitas yang baik bagi tanaman hendaklah diperhatikan tata cara budidaya dan pemberian unsure hara yang diperlukan.
Ø  Dalam pertanian organik dianjurkan menggunakan bahan – bahan yang organik seperti pupuk organik, pestisida nabati dan predator atau musuh alami hama.
Ø  Dalam pertanian organik, penggunaan pestisida an organik sangatlah di batasi karena lama kelamaan dapat mengakibatkan resurjensi terhadap hama itu sendiri. Maka dari itu penggunaan bahan – bahan an organik harus lah sesuai dengan dosis yang dianjurkan dan tidak boleh berlebihan.


















DAFTAR PUSTAKA


Ø  www.budidaya-tanaman-cabai.com
Ø  Kasumbogo Untung. 1997 Peranan Pertanian Organik Dalam Pembangunan yang Berwawasan Lingkungan. Makalah yang Dibawakan Dalam Seminar Nasional Pertanian Organik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar